Lifestyle, Hobi, and Story

Showing posts with label Perjalanan menjadi ibu. Show all posts
Showing posts with label Perjalanan menjadi ibu. Show all posts

Tiga Bulan Pertama Menjadi IRT

Friday, February 1, 2019
Assalamu'alaikum, 

Hari ini sudah genap 3 bulan  saya menjalani kesibukan dirumah. Yeayyy.. akhirnya. meski kadang kangen juga masa - masa sibuk ngantor tapi hidup itu pilihan ya gaes, dan saya bahagia dengan pilihan saya sekarang.

Baca ini juga : Pertimbangan sebelum resign

Sedikit cerita tentang beberapa pertanyaan yang sering saya terima dari teman bahkan keluarga saat belum benar - benar resmi meninggalkan meja kerja hingga saat ini setelah tiga bulan pasca resign. Kadang ada rasa jengah juga karena ada beberapa hal yang memang tidak ingin kita jelaskan ke semua orang.

Untungnya semua itu masih wajar dan masih dalam batas yang bisa ditoleransi, saya anggap sebagai bentuk perhatian dan kepedulian dari mereka.

Berikut ini adalah beberapa pertanyan yang sering saya terima sebelum/selama menjadi ibu rumah tangga :

Apa gak bosen dirumah terus?
So far sih saya belum ngerasain bosen yang gimana banget sampai uring -uringan. Mungkin karena memang pada dasarnya saya orang rumahan ya, jadi memang betah aja dirumah terus. Keluar rumah bener - bener kalau ada keperluan semacam belanja sayuran, atau belanja bulanan ke supermarket terdekat. 

Selebihnya saya sedang sibuk ngunjungin kantor BPJS Ketenagakerjaan karena mau cairin uang BPJS. Ketahuan banget lagi BU nya euy. Takut keburu lupa dan males juga sih kalau tidak sesegera mungkin diurus. Dan seriusan ternyata seribet itu lho klaim uang kita sendiri. *LOL*

baca jua pengalaman saya urus klaim BPJS 

Saya sendiripun lumayan speechless, ternyata sebetah itu saya dirumah sendirian, menikmati me time yang cukup panjang lumayan bikin saya banyak merenung. Banyak hal yang pada akhirnya membuat saya menjadi lebih rilex dan bersyukur sudah sampai di titik ini.

Tapi, meski dirumah pun saya punya targetlah mau ngapain aja. Misalnya harus olahraga tiap pagi, Makin sering ngaji, nulis, dll. Bahkan terbersit keinginan buat lanjutin kuliah lagi, sesuatu yang males banget dipikirin saat saya masih kerja dulu. Kuliah apa? dimana? mungkin akan saya share nanti ya gaes.

Punya kesibukan apa dirumah?
Kesibukan utama adalah ngurus paksu. *LOL* Padahal paksu itu bukan bayi dan sejauh ini dia sangat mandiri kok dalam beberapa hal gak yang harus diladenin segala urusannya.
Jadi kesibukan saya ya mengerjakan apa yang saya sukai dan apa yang membuat saya happy. Seperti tujuan awal saya resign ya karena saya harus rilex demi jiwa yang lebih bahagia sehingga tubuh bisa lebih sehat dan siap menjalani program kehamilan. 

Saya menulis, merajut, menjahit dan Belakangan mulai rajin di dapur juga. Dengan skill memasak yang masih itu - itu saja. Tapi minimal jadi ngurangin jajan dan makan diluar. ini ngaruh banget sih sama besarnya pengeluaran. Maklum jiwa emak - emak Ibu Bangsanya sudah terbentuk. 

Bangun pagi, setelah subuh biasanya masih ada waktu beberapa menit untuk rilex. Gak ngapa2in cuma merenung aja. Baru setelah itu siapin sarapan.


Sambil bikin infuse water pakai lemon atau perasan jeruk nipis. Baru setelah itu aku jogging sebentar, karena males ganti baju apalagi mandi biasanya masih pakai baju tidur joggingnya. Cuma muterin ruang tamu aja sampai 30 menit, memang kurang asik ya tapi cukup solutif daripada gak gerak sama sekali. Abis gimana dong saya males banget keluar rumah akhir - akhir ini, ya ampun ini parah sih.

Untuk masalah olahraga sebenernya saya sudah pernah bikin list keinginan yang belum tercapai yaitu alat treadmill atau sepeda statis. Judulnya, Daftar barang yang belum terbeli. Tapi entah kapan ya karena sementara ini masih PR beresin cashflow yang masih berantakan. Bukan karena saya masih jetleg pasca resign saat sebelumnya masih bisa jor - joran pakai uang gaji sendiri terus sekarang jadi super ngirit. Tapi karena memang ada beberapa pengeluaran dadakan yang tidak bisa ditunda. Dan lagi kalaupun harus ngirit ya wajarlah ya demi kemandirian financial dimasa depan. Kan, ngirit pangkal kaya. *hahaha alibinya orang boke*

Gak kepikiran bisnis apa gitu?
Kepikiran sudah pasti, secara saya hobi banget mikir *LOL*. Calm down gaes, sabar dulu, ya. Seperti yang sudah saya sampaikan diatas saya tetep berkarya kok meski belum menghasilkan uang sebanyak saat masih ngantor dulu. Bisa dibilang saya gak nganggur - nganggur banget kok. Macam ngerajut yang alhamdulillah masih banyak peminat dan selalu sold. Buka Instagram Delima Merah Gallery deh, sengaja bikin akun tersendiri biar gak kecampur dengan postingan random yang lain. Follow, trus order biar saya nambah kesibukan, hehehehe.

Udah Isi Belum? 
Isi apa nih gaes? kalo isi lemak yang bertebaran, iya udah mulai ngisi nih beberapa kilo. Kalo yang dimaksud adalah tentang kehamilan, mohon doa aja ya karena sampai saat ini belum hamil. Pilihan hidup saya untuk keluar dari pekerjaan dan fokus dirumah hanyalah salah satu ikhtiar setelah beberapa kali promil ke dokter belum juga berhasil. Ya namanya juga usaha, kita gak akan tahu hasilnya kalau gak nyoba kan?.


Brownis kukus

Martabak telur yang kulit lumpianya di sponsori mamah mertua


Tapi semua itu tetaplah hak mutlak Allah SWT, untuk mengabulkan doa dan ikhtiar yang saya jalani ini atau masih harus ditunda entah sampai kapan. Dan InsyaAllah saya tidak akan menyesal memilih jalan ini. 

Tetap semangat dan berbaik sangka selalu kepada Allah SWT.

Salam,

pertiwi utomo

Pertimbangan Sebelum Resign dan Menjadi Ibu Rumah Tangga

Thursday, January 31, 2019
Ketika dihadapkan pada situasi yang membuat kita harus memilih untuk tetap bekerja, atau menjadi ibu rumah tangga. Akan ada banyak pertanyaan dan ketakutan dalam diri saya dan mungkin  dialami pula oleh sebagian besar wanita yang sudah menikah terlebih yang sudah dikarunia anak.




"Yakin udah siap resign?"
" Siap bilang goodbye sama gajian?"
" Emang gak takut bosen dirumah?"

Sejujurnya saya juga ngalamin rasa takut itu. Takut kehilangan segala yang saya miliki sekarang ya pekerjaan, ya gaji ya eksistentsi dan segala macamnya itu. saya takut hidup saya akan mandeg, stagnan dan tidak berkembang. Bahkan sempat pula saya takut untuk memulai komunitas baru di lingkungan baru. Entah butuh waktu berapa lama untuk beradaptasi dengan situasi seperti itu.


Beda cerita jika alasan resign-nya adalah karena ingin mendapatkan pekerjaan lain yang gajinya lebih besar, lebih nyaman, lebih dekat dengan rumah atau sedang menggeluti bisnis dan passion. Itu akan terdengar lebih mudah, saya rasa.



Dengan segala ketakutan dan kegalauan itu, sepertinya takkan ada yang benar - benar siap resign dan memilih jadi Ibu Rumah Tangga deh, karena tidak ada tolak ukur yang paling pas untuk menimbang kesiapan hati seseorang untuk melepaskan pekerjaannya.
Saat itulah kita butuh second opinion atau sekedar waktu untuk merenung. Karena pada akhirnya diri kita sendiri yang akan memutuskan dan juga menjalaninya. Masukan dari orang lain memang perlu tapi pembuat keputusan adalah tetap kita pribadi. 

Terlepas dari pentingnya mempertimbangkan kondisi keuangan keluarga seperti tanggungan hutang yang wajib dilunasi, beragam cicilan jika ada, dana darurat atau modal usaha jika berniat berwirausaha. Yang tak kalah penting dari semua itu adalah kesiapan mental.

Siap berpisah sama rekan - rekan kerja yang selama beberapa lama ditemui tiap hari, berbagi suka duka. Siap berpisah dengan rutinitas yang sibuk dan melelahkan, menguras energi dan pikiran. Tapi kemudian lupa kalo udah sampe rumah. Siap berpisah dengan yang namanya "Gajian", yang biasanya pegang uang pribadi buat beli tetek bengek, nanti nya bakalan gak lagi. Bersabar dengan apa - apa yang di berikan suami dan kudu semakin pinter mengelolanya.

Coba tanyakan itu berkali - kali pada diri sendiri jangan takut menjadi ragu dan akhirnya membatalkan niat resign. Karena yang belum bisa yakin dengan keputusannya, ya berarti emang belum siap.

Beberapa hal yang mungkin menjadi bahan pertimbangan sebelum benar - benar memutuskan untuk resign  adalah :

1. Alasan Yang Jelas
Sebaiknya kumpulkan sebanyak mungkin alasan kuat kenapa kita memilih untuk melepaskan pekerjaan dan memilih jadi IRT. Misal, karena tidak ada yang mengasuh anak, lokasi kerja yang jauh sehingga menyita banyak waktu dijalan, atau alasan ingin fokus Program kehamilan dan mengurus keluarga seperti saya.

Ada banyak alasan, tapi sebaiknya jangan karena emosi sesaat, misal karena kerjaan yang luar biasa melelahkan atau karena dapet bos baru yang super killer. Saya rasa itu bukan alasan yang cukup kuat tapi ya terserah juga sih, asal bener - bener udah yakin sama pilihannya.


2. Luruskan Niat
Meluruskan niat itu penting supaya apa - apa yang kita lakukan selalu bernilai ibadah.
Libatkan Allah SWT dalam segala hal termasuk salah satunya tentang pekerjaan. Bagaimanapun profesi kita saat ini hanyalah sarana untuk ibadah dan mencari rejeki. Jadi jangan pernah takut meninggalkan pekerjaan dan menjadi full mom. Yakin-in aja pekerjaan kita tidak lebih berharga dari waktu dan kebersamaan dengan keluarga, apalagi dengan anak - anak yang masih butuh pendampingan. Karena ya tidak ada juga yang bisa memaksa kita untuk resign, kecuali niat dari diri kita sendiri.


3. Tentang Prioritas
Masing - masing individu ataupun keluarga pasti punya prioritasnya sendiri. Jangan lantas jadi menyama - nyamai dengan prioritas orang lain supaya dianggap umum dan wajar.
Misal nih ya.. kalo prioritas saya pribadi adalah tentu saja mewujudkan rumah tangga yang ideal bagi saya. Ideal bagi saya mungkin berbeda standart dengan ideal versi orang lain, dan itu gak apa - apa banget. Jadi Ideal versi saya ya salah satunya dengan tinggal bersama, rasanya kok berat ya kalo harus LDM-an serasa saya bukan tempat pulang bagi suami dan itu sangat tidak nyaman.

Karena kondisinya saya yang harus jauh dari rumah, jadi sayalah yang harus ngerasan semacam mudik saat weekend datang dan menggalau di minggu sore karena masih betah dirumah. Berhubung tempat saya bekerja tidak satu kota dengan tempat kerja suami jadi saya memilih resign tentunya atas pertimbangan dan saran suami juga dong ditambah lagi dengan pertimbangan ikhtiar dalam mendapatkan momongan. Ini baru satu alasan lho. 

Mungkin buat pasangan yang sudah memiliki momongan prioritasnya jadi berbeda, ya karena ingin mengurus dan mendampingi anak, dan itu sangat mulia sekali. Atau ada yang prioritasnya adalah karena ingin mengurus orang tua dirumah, dan masih banyak lagi. 

4. Komunikasikan pada orang Terdekat
Sounding tentang masalah pengunduran diri menjadi sangat penting supaya tidak timbul penyesalan atau masalah dikemudian hari. Misal, kepada orang tua, dan pasangan. Samakan visi misi dalam berumah tangga. Bagaimana pola asuh anak, bagaimana menjalankan peran setiap harinya. Jangan menjadikan salah satu terbebani sadangkan yang lain terbebas dari tanggung jawab.

Misal: saat istri masih bekerja suami mau membantu pekerjaan rumah, tapi saat istri resign suami seolah enggan karena menganggap itu tugas istri.
Buatlah suami paham bahwa pekerjaan rumah adalah tanggung jawab bersama.
Ini penting lho dibicarakan sejak awal supaya tidak ada kesalahan persepsi. "Ya udah kan kamu dirumah, sekarang cuma aku yang kerja jadi urusan rumah adalah sepenuhnya tanggung jawab kamu." OHH TENTU TIDAK FERGUSO.

5. Buat Catatan Anggaran yang Jelas
Untuk masalah berhitung uang belanja, para Ibu pasti sudah hafal di luar kepala.
Sebelum Memutuskan resign buatlah rencana anggaran setidaknya untuk 6 bulan kedepan. Karena pasti akan ada perbedaan dari sisi pendapatan. Kalau saat istri masih bekerja bisalah ya nge-cover untuk tambah - tambah uang belanja, minimal beli kebutuhan kosmetik dan hobi bisa pakai uang sendiri. Kemudia berubah karena penghasilan suami akan manjadi sumber utama dan satu - satunya. 

Apalagi jika status kita adalah mengundurkan diri, yang artinya harus siap dengan kemungkinan terburuk tidak mendapatkan pesangon sepeserpun. Kecuali mungkin dana pensiun jika ada dan tunjangan BPJS ketenagakerjaan. 

Mulailah menyesuaikan diri dalam situasi ini supaya tidak menimbulkan masalah baru, misal hutang dimana - mana yang bisa berakibat fatal dan bikin stress sendiri. Review lagi beberapa post pengeluaran yang bisa dipangkas mungkin bisa jadi alternatif. Bagi yang punya Credit Card bisa mulai seleksi lagi dalam penggunakannya. Bila perlu tutup beberapa credit card dan pilihlah yang memberi fitur free admin selamanya. Jika memungkinkan close saja semuanya!

Beberapa orang bahkan menyarankan untuk mengamankan dana darurat sebelum resign. Ada yang berpendapat harus punya 12x Gaji, ada yang bilang juga minimal 3x gaji. Belakangan saya di beri info sekurang -  kurangnya adalah 3x biaya hidup, maksudnya adalah biaya hidup minimal selama 3 bulan kedepan. Catet ya.. Biaya Hidup lho, bukan Gaya Hidup

Apa kabar saya yang saat memutuskan resign dalam kondisi defisit pasca renovasi rumah, ya untungnya suami masih berpenghasilan cukup (Alhamdulillah) untuk biaya hidup, tabungan masih dalam tahap recovery yang entah bisa pulih dalam waktu berapa lama, Bismillah.
6. Buat Komunitas Baru
Komunitas baru tak melulu tentang kumpulan ibu - ibu komplek yang hobinya arisan. Sekarang, kita bahkan bisa ikut komunitas online. Misal komunitas menulis, komunitas merajut, dll
yang intinya komunitas yang posistif ya, supaya pikiran emak - emak ini tetep bisa  up to date sama isu - isu yang sedang berkembang atau hal - hal yang sedang viral. *halah*

Bisa juga jadi sarana bertukar ilmu pengetahuan, pengalaman dan ide kreatif. Jadi gak ada alesan lagi dong untuk males - malesan belajar.
Ibu Rumah Tangga juga harus rajin mengupgrade dirinya.
Selain itu dengan semakin banyak komunitas, tentunya kita akan bertambah teman, saudara dan tentunya peluang. Percayalah, Silaturahmi akan menambah rejeki. 

Apapun alasannya, resign hanyalah salah satu fase dalam kehidupan yang harus saya jalani cepat atau lambat. Dan itu bukan akhir kehidupan, justru akan menjadi awal perjalanan hidup difase selanjutnya. Menjadi manusia yang lebih berbahagia. Aamiin.


Salam,

Pertiwi Utomo





Tips Sehat Untuk Calon Ibu

Tuesday, December 4, 2018


Assalamu'alaikum,

Menanti adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan. Dan menanti kehadiran buah hati bisa jadi merupakan salah satu penantian paling berat dalam hidup seseorang. Beban kesedihan dari dalam diri sendiri semakin manjadi manakala tidak mendapatkan support dan dukungan dari orang - orang terdekat. Belum lagi harus menghadapi kenyinyiran para netizen yang terkadang tidak punya hati nurani. *curcol*

Beruntungnya saya selalu mendapat dukungan dan doa terutama suami dan orang tua juga saudara. Alih - alih fokus pada masalah dan kesedihan calon ibu bisa menyibukkan diri dengan melakukan aktivitas yang positif dan menyenangkan. Misal dengan menjalani hobi sederhana yang tidak terlalu extrim misal dengan menulis, memasak, merajut, membaca, atau hobi lainnya.

Bisa juga dengan terus menggali informasi tentang kesehatan, kehamilan, bahkan perawatan bayi. Tidak harus selalu dengan mengikuti seminar offline. sekarang sudah juga informasi bisa kita dapatkan melalui internet. 

Dari sekian banyak informasi yang saya dapat baik melalui internet maupun buku, juga nasihat dokter, point penting untuk menjaga kesehatan dalam mempersiapkan kehamilan adalah memperbaiki gaya hidup, dengan cara :


  • 1. Konsumsi Makanan yang Bergizi
Ini menjadi salah satu hal yang harus benar - benar dipehatikan oleh calon ibu yaitu konsumi makanan yang bergizi seimbang dengan cara mengkonsumsi makanan yang kaya akan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, air, garam, serat dan asam folat.

Asam olat sendiri diperlukan untuk membentuk sel yang baru, serta mengembangkan  syaraf dan otak janin. kebutuhan asam folat yang tercukupi akan mengurangi resiko kelainan susunan syaraf pada bayi. Asam folat sendiri tidak dapat disimpan oleh tubuh sehingga harus diberikan setiap hari  dalm jumlah 0,4mg/hari.

Sumber asam folat adalah hati, sayuran hijau, jeruk, kacang - kacangan, roti gandum, serelia, dan ragi.

Hindari sebisa mungkin menu junk food atau menu cepat saji dan berpengawet dengan alasan praktis. Agak susah ya gaes karena menu - menu makan junk food memang sungguh menggoda tapi kita harus berusaha menghindarinya. Bila perlu ganti semua camilan menjadi buah -buahan , smoothies, atau sereal.

Banyak konsumsi air putih setidaknya 2 liter sehari. Hentikan kebiasaan minum minuman kaleng yang bersoda atau mengandung pengawet dan pemanis buatan.


  • 2. Olahraga Secara Rutin
Menjaga kebugaran dengan berolahraga sangat dianjurkan bagi pasangan yang ingin segera hamil dan punya anak. manfaatnya tentu saja adalah menjaga kebugaran, mengontrol berat badan dan menjaga kesuburan. Karena di percaya dengan olarraga yang teratur dapat mempertahankan keseimbangan hormon dalan tubuh.

Meski demikian pilihlah jenis olahraga ringan dan tidak rawan cidera (Low Impact) yang penting dilakukan secra rutin misalnya berjalan kaki, bersepeda santai, berenang, dan bermeditasi (yoga).


  • 3. Hindari Stres
Kesedihan dan berbagai tekanan persoalan lainnya yang memicu stress menjadi polemik bagi pasangan yang belum dikaruniai momongan. Hal ini tentunya tidak boleh di biarkan berlarut - larut karena justru akan semakin memperkecil peluang kehamilan.

Stres bisa mempengaruhi fungsi hipotalamus, yaitu bagian di otak yang berfungsi untuk mengatus emosi, tekanan darah, denyut jantung, suhu tubuh dan perilaku konsumsi. Termasuk diantaranya juga mengatur hormon yang memerintahkan ovarium untuk melepaskan sel telur.

Karena itulah perempuan yang ingin hamil dianjurkan untuk santai dan rilex, meski untuk mewujudkan kondisi tersebut bukanlah hal mudah. Apalagi jika ditambah dengan buruknya support system dari keluarga dan lingkungan. Saat itulah bersikap 'bodo amat' dengan omongan orang menjadi perlu dilakukan.


  • 4. Istirahat Cukup
Apabila kita sudah bisa mengelola stres maka besar kemungkinan akan mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik. Kurangi begadang yang tidak perlu misal demi nonton drakor, dsb.

Tidurlah lebih awal apabila niat untuk sholat malam atau sahur, sehingga porsi istirahat tetap cukup. Dengan begitu kita bisa menjalani hari dengan lebih bugar dan samangat.


Karena proses terjadinyan kehamilan tak hanya menjadi tanggung jawab calon ibu, penting juga bagi calon Ayah untuk mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Hilangkan kebiasaan buruk seperti merokok, begadang dan terlalu banyak minum kopi sangat dianjurkan.

Ya, namanya juga usaha kan ya, hasilnya tetap kembali kepada Allah SWT, yakin saja tidak ada usaha yang sia - sia. Dan yakin Allah akan mengabulkan doa di waktu yang paling tepat. Semoga kita selalu diberi kesabaran dalam penantian ini.

Wassalam,

pertiwiuomo





Tulisan ini disertakan dalam #BPN30dayChallenge2018 #BloggerPerempuan




5 Buku Yang Menemani Program Kehamilanku

Thursday, November 29, 2018

Assalamu'alaikum,.

Adakah dari pembaca semua yang sedang program hamil seperti saya? kalau begitu kita senasib ya. Dalam situasi seperti yang saya alami, yaitu berjuang mendapatkan momongan tentu saja kondisi yang rawan stress banget. Awal mulai promil sejak tahun pertama pernikahan gampang banget ngedown, sedih dan terpuruk.

Saya rasa wajar saja, itu artinya kita masih punya kepekaan emosi. akan tetapi bila tidak dikelola dengan baik justru akan menghambat terjadinya kehamilan itu sendiri. 

Setelah melakukan ikhtiar ke dokter, yang perlu kita lakukan adalah banyak - banyak mendekatkan diri kepada Allah SWT supaya bisa lebih ikhlas menjalaninya. 

Selain itu saya juga banyak membaca buku tentang program kehamilan. Faedahnya tentu saja bisa menambah pengetahuan saya, semakin memahami proses terjadinya kemailan dan segala macam penghambat dll membuat saya semakin mengerti dan berusaha lebih santai menjalani program kehamilan saya.

Berikut ini adalah buku yang pernah saya baca dan mungkin bisa menjadi referensi bagi kalian yang sedang promil .


1. Panduan Cara Cepat Hamil 




Dalam buku terbitan Digi Pustaka setebal 299 halaman yang ditulis oleh  dr. Rosdiana Ramli, Spog. ini  mengupas tuntas Cara Cepat Hamil

Dari mulai pengertian infertilitas, sistem reproduksi, menentukan masa subur, hingga segala macam mitos seputar kehamilan. Tidak hanya itu bahkan di dalamnya ada bab yang khusus berisi berbagai pertanyaan yang biasantmya melanda pasutri saat program kehamilan.

Selain Itu dalm buku ini juga dijelaskan secara gamblang tahapan saat akan mulai untuk program kehamilan melalui bantuan dokter. Bagi pemula dalam urusan per- promilan sedikit banyak buku ini memberikan jawaban step by step pemeriksaan apa yang harus dilakukan pasutri yang ingin mendapat momongan

Meski demikian dr. Rosdiana Ramli Spog mengakui dan tetap meyakinkan pada kita bahwa para dokter, bidan dan tenaga medis laiinya hsnyslsh manusia biasa yang hanya bisa membantu meningkatkan peluang kehamilan dan sama sekali tidak memiliki kemampuan dalam memastikan kehamilan. 

2. Buku Pintar Cepat Hamil




Seakan belum puas membaca buku pertama yang memang  saya pinjam dari seorang teman yang sedang berjuang menjadi ibu juga.  Akhirnya membeli lagi buku yang isinya kurang lebih sama.

Tapi yang membedakan adalah buku ini langsung pada inti permasalahan yaitu menjabarkan secara terperinci beberapa metode yang bisa dipraktekan untuk memperoleh kehamilan.

Buku ini ditulis oleh Wanda Ayu yang merupakan duta ramuan herbal juga dan Laksmi Arsita yang merupakan seorang bidan menberikan beberapa metode untuk cepat hamil yaitu : metode alamiah, metode kedokteran, metode golongan darah, dan metode herbal


3. Panduan Terlengkap untuk Calon Ibu dan Ayah tentang Kehamilan, kelahiran, dan Bayi




Well seperti judulnya ya ini buku lengkap banget. Penulisnya yaiu Philip D Sloane, M.D, Salli Benedict,M.Ph dan Melanie Mintzer, M.D. membagi pokok bahasan menjadi 5 bagian, yaitu:
  • Sebelum Hamil

Meliputi pengambilan keputusan untuk memiliki anak, serta mempersiapkan tubuh untuk menyongsong kehamilan atau bahkan kehamilan tanpa rencana sekalipun.
  • Tiba Bulan Pertama
Dimulai dengan memilih tenaga kesehatan, perawatan pralahir, dan bagaimana pentingnya gizi yang baik, olah raga. Selain itu di bahas pula kemungkinan kasus pada ibu bekerja, juga kemungkin aterburuk saat mengalami keguguran.Tak hanya itu penulis juga menjabarkan tentang emosi dan seksualitas pada ibu hamil. 
  • Masa Tiga Bulan Yang  di tengah
Menjelaskan fase-fase pertumbuhan janin, bagaiaman ibu hamil menyikapi perubahan tubuh yang umumnya terjadi juga emosi, dan pertimbangan untuk bepergian selama hamil,
  •  Masa Tiga Bulan Terakhir
ini adalah dimana usia kehamilan menginjak trimester akhir. Saat - saat paling mendebarkan yaitu menunggu kelahiran bayi. Bagaimana menjalani perawatan pralahir dan pemerikasaan di akhir kehamilan. Juga anjuran untuk meredakan nyeri persalinan.
  • Anda Dan Bayi Anda
Apasaja yang seharusnya dilakukan saat di rumah sakit, latihan dasar bagi orang tua dan bagaimana memulihkan fisik ibu baru

Demikian runut dan cukup lengkap segala penjelasan ada dalam buku setebal 431 halaman ini.


4. Mencetak Anak Genius Sejak Dalan Kandungan




Buku karya Bunda Novi ini menitik beratkan pada bagaimana menjalani kehamilan yang sehat dan bahagia karena akan sangat berpengaruh bagi perkembangan janin dalam kandungan. Mulailah membiasakan hidup yang penuh kedamain, ketentraman, penuh cinta dan kasih, pikiran yang positif, sabar dan penuh keikhlasan juga rasa syukur. 

Karena Faktor tersebut menjadi salah satu pendorong kuat pembentukan karakter dan jiwa janin. Selain itu kita kita bisa membeikan beragam stimulasi untuk meingkatkan kecerdasan otak janin dengan cara mengajak berbicara sejak dalam kandungan, membacakan cerita atau mendongeng, mendengarkan lagu, mengelus - elus perut,  merangsang dengan cahaya juga di iringin dengan asupan gizi yang seimbang.

Buku terbitan Diva Press setebal 172 halaman ini bisa menjadi bacaan ringan yang cukup penting untuk para ibu dan calon ibu.

5. Nutrisi Pintar Ibu Hamil & Menusui Golongan Darah A




Buku ini di tulis oleh Milda Ini, yang merupakan alumni Poltekes Keperawatan Depkes, Bengkulu. Diterbitkan oleh Bhuana Ilmu Komputer (BIP) Kelopok Gramedia, setebal134 Halaman

Penasaran aja tentang diet golongan darah apalagi ini buat kehamilan. Karena selain menjelaskan karakteristik si gololongan darah A juga memberikan pedoman dan rambu - rambu dalam memilih sumber makanan yang baik untuk tubuh. Dilengkapi pula dengan aneka resep masakan juga smoothies.

Apakah Dengan membaca kelima buku diatas menjamin keberhasilan program kehamilan saya? Wallahu'alam. Sekali lagi kehamilan adalah mutlak Hak Allah SWT saya hanya berusaha semaksimal yang saya bisa.

Wassalam,

Calon Ibu

Tulisan ini disertakan dalam #BPN30dayChallenge2018 #BloggerPerempuan







Surat Cinta Untuk Ananda

Tuesday, November 27, 2018
Surat Cinta Untuk Ananda


Assalamu'alaikum Nak,

Hari ini jauh sebelum engkau lahir, ntah setahun atau bertahun kemudian. Izinkanlah Ibumu ini menceritakan sesuatu sebelum ibu lupa.

Beberapa hari yang lalu, ibu berkunjung ke tempat adik ibu yang tak lain adalah bulikmu untuk bertemu dengan eyang putrimu. Bapakmu yang mengantarkannya ibu waktu itu sebelum dia berangkat kerja. Setelah menginap satu hari satu malam keesokan harinya Bapakmu menjemput ibu lagi.

Karena suatu urusan dengan temannya Bapakmu menitipkan mobil kami ditempat kerjanya sedangkan dia menjemput ibu dengan diantar temannya itu. Mau tak mau kami harus pulang dengan bus dan pergi ke tempat kerja Bapakmu untuk mengambil mobil itu.

Singkat cerita, setelah sholat maghrib kami pergi ke gerbang tol untuk menunggu bus antar kota jurusan bekasi - bandung yang melewati tol cikopo. Kamipun turun di KM 65 kemudian berjalan kaki menuju pabrik tempat kerja Bapakmu.

Tentu saja ini bukan jalur yang umumnya dilewati orang. Kami melewati jalan setapak yang cukup gelap karena minim penerangan. Pepohonan tinggi menjulang di kanan dan kiri jalan gelap ini menambah suasa semakin dramatis.

Belum tengah malam, karena waktu baru menunjukkan pukul 20.00 WIB tapi sudah sedemikian sunyi. Hanya suara derap langkah kami berdua diiringi angin yang menabrak ranting dan daun.

Setelah melewati sebuah terowongan dan pemukiman penduduk yang juga sama sunyinya kami masih harus turun ke pematang sawah yang di penuhi ilalang. Sampai sini sudah tak adalah lagi cahaya lampu. Berharap cahaya bintang menerangi sayangnya langit mendung tertutup awan gelap.

Harapan satu - satunya pada lampu senter yang ada pada Handphone kami. Sepanjang perjalanan Bapakmu menggandeng tangan Ibu. Ya tentu saja dia paham ibumu cukup penakut. Terlebih adalah takut ada ular atau orang jahat. Sepanjang perjalanan ibu tidak henti - hentinya berdoa.

Dalam suasana yang sunyi dan mencekam, seketika saja Ibu makin manyayanginya Nak, teringat beberapa tahun lalu sebelum kami punya mobil sendiri.dia harus bolak balik bekasi - cikampek dengan bus dan melewati jalanan mengerikan ini tak peduli pagi, siang atau malam bahkan dalam hujan sekalipun. Dan dia tidak pernah mengeluh.

Kamipun akhirnya sampai ketempat yang kami tuju, dan akhirnya ibumu ini bisa merebahkan punggung juga. Sepanjang perjalanan menuju rumah Ibu memandanginya menyetir dan tak henti bersyukur.

Kenapa ibu menceritakan ini semua, ibu hanya ingin kamu mengenal Bapakmu yang dalam sifat pendiamnya dia telah berjuang menghidupimu. Karena meskipun ibu yang mengandung dan menyusuimu, tapi Bapakmulah telah dengan segenap jiwa raganya menjaga dan bekerja keras untuk kita.

Dia laki - laki biasa, Nak.

Tapi dengan cinta dan perjuangan luar biasa. Semoga, kelak nanti kamu tumbuh jadi anak yang sholeh, berbakti pada Bapak Ibu, berguna bagi nusa dan bangsa.

Tak banyak yang bisa ibu berikan. Tak banyak pula yang Bapakmu janjikan,  selain doa semoga Allah SWT segera mempertemukan kita di waktu yang tepat, dalam keadaan sebaik - baiknya.

Percalah Nak, Bapak dan Ibu selalu mendoakanmu tanpa TAPI.

Wassalam,

Ibu

Tulisan ini disertakan dalam #BPN30dayChallenge2018 #BloggerPerempuan


Histereskopi Operatif di RS Hermina Bekasi Barat

Monday, September 24, 2018

Bulan Mei 2018, pikiran lagi semrawut. Jadwal Haid berantakan padahal udah membulatkan tekad untuk ikutin saran dokter Rizki melakukan tindakan Histeroskopi.

Ketika si tamu bulanan datang, meski masih ada sedikit keraguan  tapi tetep sih akhirnya bikin janji untuk konsul juga, dan ternyataaaaa.... Dokternya lagi umroh sis, ya sudah memang harus fokus renovasi rumah dulu kali ya, karena memang sedang renovasi rumah per tanggal 7 mei 2018 kemaren.

Satu siklus menstruasi pun berlalu. Mulai mengumpulkan keberanian lagi untuk bikin janji di siklus bulan berikutnya. Setelah menuntaskan 6 hari puasa sunah syawal dan 7 hari bayar hutang puasa, jeda beberapa hari kemudian tamu yang lumayan tidak ditunggu ini pun datang. Langsung bikin janji temu dengan dokter Rizky dengan semangat 45!

Lebih dari setahun belakangan ini memang tiap kali konsul ke dokter jarang ditemani suami. Tidak 'Baper' kok, kan paham situasinya suami lagi kerja. Yang tidak bisa tiap saat ijin datang terlambat, atau pulang cepat demi mengantar istrinya yang kalau bikin jadwal di hari kerja dan jam kerja pula. Ya sudah nikmatin aja wara wiri nge'grab' atau kalau sedang beruntung bisa minta di temani atau di anter adik bungsu. Udah bahagia lhoo hati saya ini.

Hari jumat siang, saya ijin saat jam makan siang karena memang jadwal dokternya pukul 11.00 s.d 14.00 WIB. Masih memungkinkanlah dalam bayangan saya. Saya jalan dari kantor sekitar 13.30 siang. Kelarin sedikit kerjaan yang urgent supaya tenang saat ijin ke keluar. Tapi untuk kesekian kalinya jadwal dokter pun ngaret.

Jam 15.00 WIB Ibu dokter tercinta baru mendarat, dikarenakan ada meeting dengan manager rumah sakit. Alasan yang sedikit membuat tensi darah meroket ya gak sih.. ?
Sepenting apa sih meeting itu sampai harus menelantarkan pasien. Yang mungkin datang kesana dengan penuh harapan, kecemasan dan segala tetek bengek urusan yang sementara ditinggalkan. 

Mana hari itu gak sarapan karena ngebut kerjaan ditambah sedikit kurang nafsu makan, tenggorokan kering, sedang mens, badan meriang dan flu berat. Sungguh kondisi yang rasa - rasanya pengen di traktir sop janda dengan taburan cabe rawit yang melimpah, di temani dengan nasi hangat bertabur bawang goreng krispi. Minumnya cukup dengan air jeruk peras yang masih panas. Mantap!

Sayangnya itu semua cuma halusinasi, sore itu saya masih duduk ngelamun sambil menunggu antrian, ke sebelas!
Sekitar pukul 16.15 menit baru di panggil itu pun setelah pasien sebelum saya menghilang entah kemana, mungkin ke toilet, mungkin sedang mengisi perut karena terlalu lama menunggu atau bahkan pulang karena lelah. Menurut kalian dia kemana? *meneketehe

Terlepas dari teka teki pasien nomor 10 yang menghilang, akhirnya saya terpaksa menggantikannya dengan senang hati. Lumayankan..

"Bagaimana Bu? Ada apa?" Kata Bu Dokter dan saya bilang, 
"saya blm hamil dok, saya sedang haid hari ke-3" kata saya waktu itu.
Setelah sebelumnya dokter sempat menilai prograss diet saya, dari angka hasil timbangan tadi yang menunjukkan angka yang menggembirakan. wajarlah ya secra kan baru aja selesai puasa di bulan Ramadhan, bayar hutang puasa dan puasa syawal.  

Akhirnya saya pun menduduki kursi singgasana itu. Untuk pengecekan apakah polip masih ada atau tidak. Dan faktanya itu polip masih ada. Dengan tegas saya bilang ke dokter jadwalin saja untuk waktu tindakan HO nya.

Setelah urus ini itu kebagian administrasi dibuatlah surat rujukan untuk rawat inap satu malam sebelum tindakan ditambah resep obat yang harus diminum 2 hari sebelum tindakan. Katanya sih itu obat untuk membuka jalan lahir.

obat yang harus diminum 2 hari sebelum tindakan HO


Hari rabu, tanggal 25 Juli 2018 sepulang kantor saya buru - buru pulang untuk mandi dan bawa sedikit keperluan untuk menginap antara lain : Kain sarung kesayangan warisan dari nenek, 1 stel pakaian dalam, satu stel baju tidur, sikat gigi, odol, facial foam, sabun cair dan cairan antiseptic. Selain itu bawa sebungkus biskuit malkis dan sebutir mangga yang sudah di potong - potong serta beberapa butir jeruk yang tersisa di kulkas.

Toiletries


Drama pertama adalah saat muter - muter cari parkiran, karena RS. Hermina Bekasi Barat memang segitu kecilnya deh parkirannya. Yang kalau di lihat udah pasti penuh terus, atau pas kebeneran aja ya.
Drama selanjutnya adalah antri di pendaftaran. Padahal ya udah ada surat pengantar juga yang di buat saat konsultasi terakhir kali. Entah karena memang saya lagi laper, panik atau apa semua terasa berjalan lambat.

Akhirnya bisa masuk ruang perawatan juga sekitar pukul 20.00 WIB. Sejak awal saya memilih kelas III selain karena memang cari yang ramai biar gak serem, juga karena alesan budget. ya kalo cuma tidur dirumah sakit ngapain yang mahal - mahal sih. Kalo mau liburan oke deh ya cari penginapan yang bagusan. Karena diruang kebidanan bahkan suami aja gak boleh nungguin lewat dari jam 22.00 WIB. Alhamdulillah banget ada Mama yang bersedia nungguin.

Pukul 22.30 diambil darah untuk test laboratorium persiapan operasi besok. Di cek tensi darah juga, dan disuruh makan malam untuk persiapan puasa besok pagi.  Dikirimlah nasi goreng rumah sakit dengan telor ceplok yang rasanya ya "B -ajah", tapi ya Alhamdulillah,hehe.

Kemudian sekitar jam 2 malem minum banyak air putih karena setelahnya harus puasa makan minum. Lanjut tidur lagi sampai pagi. Saat itu saya masih nge-flek gitu mens nya belum bener - bener bersih. Sempet galau tapi pas tanya sama suster katanya gak masalah.

Setelah mandi dan ganti piyama biar nyaman. Akhirnya jam 7 datanglah perawat yang akan membawa saya keruang eksekusi. Sebelumnya di tusuk jarum infus buat masukin obat gitu. Berasa jadi orang sakit karena mesti di dorong - dorong dalam keadaan terbaring. Melewati lorong - lorong rumah sakit dalam kondisi pikiran dan hati yang sulit untuk di deskripsikan lagi.

Berada di ruang peralihan, terakhir diantar sama Suami dan Mama kemudian diminta berdoa supaya di lancarkan segala sesuatunya,merekapun diminta keluar ruangan.Kemudian saya ganti seragam operasi yang jahitannya jaya orang kehabisan benang dengan melepas semua atribut pakaian yang melekat. Tiba - tiba aja merinding karena hawa dingin ruangan terasa menusuk kulit.

Selesai cek ini dan itu yang sebenarnya cuma sekedar wawancara ringan, nama, tanggal lahir, ya gitu - gitu aja sih tiap akan dilaksanakan  tindakan. Mungkin takut ketuker pasien kali ya, baguslah dari pada asal suntik kan bahayaaaaaa!

Diantarlah saya menuju sebuah ruangan yang  berisi segala tetek bengek peralatan menyeramkan. Ada semacam alat deteksi detak jantung di sebelah kanan, dan semacam monitor gitu di sebelah kiri. Ada meja yang berisi berbagai macam tools yang nantinya bakalan di pake.

Menatap langit - langit ruang operasi yang dingin. Cuma bisa istighfar, memohon ampun atas segala dosa - dosa yang pernah di perbuat. Bagaimana jika disinilah saat terakhir kalinya saya bisa membuka mata? Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Semua saya pasrahkan kepada Allah SWT. Sekali lagi, manusia cuma bisa berusaha tapi cuma di tangan Allah takdir kita di genggam.

Dokter Rizki yang akan mengeksekusi sudah ada di posisi, begitu juga dengan dokter anastesi. Tepat hitungan ketiga setelah selang terpasang dihidung dan saya menghirup udara yang begitu dingin ditambah dengan suntikan dibagian tangan. Terus saya di minta berhitung 1 - 3 kali dan tarik nafas dalam - dalam. Disitulah kesadaran saya berakhir. Saya tidak merasakan apapun selain beberapa kali tepukan di bahu dan beberapa kali nama saya di sebut, yang mungkin oleh suster yang mendampingi dokter operasi. dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar. 

Ketika saya mulai bisa membuka mata hal pertama yang saya lihat adalah lampu yang ada di langit -langin ruang operasi, ruangan dingin tempat terakhir kali terpejam. Yups saya masih diruang operasi. Sadar, tapi  tak sepenuhnya sadar karena masih dalam kondisi lemes selemesnya.

Sekitar jam 10 saat saya kembali melewati lorong - lorong menuju ruang perawatan. di iringi suami  dan mama tercinta.

Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar.

BTW,  baca juga cerita Sebelum HO disininya.

Wassalam,

Yang Masih Berjuang Untuk Menjadi Ibu



Cerita (sebelum) Histereskopi Operatif

Friday, August 17, 2018





Assalamu'alaikum pembaca yang budiman, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT.


Melalui tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman saya menjalani Hysterescopy Operatif atau Histeroskopi Operatif yang baru dilaksanakan beberapa waktu yang lalu. Sebelum saya lupa.. Haha

Semoga masih pada inget dong resolusi, harapan, doa, dan cita - cita terbesar saya ditahun 2018 ini tentang keinginan menjadi Ibu. Bukan karena sudah ditanyain terus sama Ortu,mertua, saudara, teman, tetangga apalagi netizen, LOL. Ya saya merasa sudah sangat siap lahir dan bathin untuk menerima amanah anak. Tapi sepertinya belum ada tanda2nya sampai dengan saat ini. Karena siap versi kita sebagai manusia belum tentu siap bagi-Nya.

Pasrah dan Tawakal penuh kepada Allah SWT itu wajib, tapi ikhtiar dan doa maksimal juga harus dong. Iya, jadi untuk menuju ke arah sana saya harus mulai lagi program hamil dengan serius. Kemaren - kemaren gak serius dong? Serius juga kok.. Tapi kali ini lebih super duper serius!

Pernah urut, bekam, minum ramuan ini dan itu, kurma muda, buah zuriat, dari segi medis tentu saja check up keseluruhan untuk istri : USG Transvaginal, HSG, Test Hormon, dan terakhir sempet terapi juga dengan obat Hormonal yang ketika di konsumsi membuat tubuh gak nyaman, ya meriang, pusing, begah juga perutnya.
Intinya secara keseluruhan baik.

Sedangkan untuk suami Analisa Sperma, sampai dengan Rongsten untuk memastikan ada varikokel atau tidak. Btw, kenapa diminta Rongsten? Karena hasil AS pertama kurang bagus. Setelah Rongsten Tapi semua oke kok bahkan hasil Analisa Sperma hasil yang baik. Pernah cerita disini tentang Analisa Sperma yang terburu - buru.

Sekitar bulan februari 2018 saya direkomendasikan untuk urut sama kaka ipar yang kebetulan cocok dan berhasil hamil berkat pertolongan tukang urut tersebut. Ya tidak ada salahnya di dicoba, pikir saya waktu itu.

Tidak disangka rasanya sungguh nyeri- nyeri sedap, nyaris kapok tapi saya masih berpikir ya Allah ini belum seberapa sakitnya di bandingkan saat akan melahirkan. Jadi saya berusaha kuat saat itu, karena malu juga kalau sampai menangis apalagi menjerit. Sungguh pengalaman yang traumatik.

Singkat cerita kunjungan kedua sudah di jadwalkan. Tapi qodarullah ditengah jalan di info si Ibu Tukang urut ini berhalangan. Akhirnya kami putar balik lagi untuk pulang dan istirahat saja dirumah.

Beberapa bulan vacum dari dunia per-promil-an karena ingin mengumpulkan kekuatan hati lagi untuk serius ke dokter aja. Iya niat hati untuk inseminasi semakin kuat. Walaupun kata dokter prosentase dari inseminasi hanya sekitar 15 - 20% saja di banding bayi tabung yang mencapai angka 40% peluang keberhasilan.

Kenapa harus Inseminasi? Karena kami sudah mencoba secara Alami belum berhasil. Jadi apa salahnya dicoba. Sekali lagi kami cuma bisa berdoa dan berusaha selebihnya adalah hak Allah untuk mengabulkan atau tidak.

Sekitar bulan Mei saya mulai cari informasi lebih mendetail terkait prosedur dan biaya inseminasi. Dan kami memutuskan untuk tetap dengan dr. Rizki Isnaeni SpOg yang biasa kami kunjungi.

Setelah kurang lebih 6 bulan tidak promil ke Dokter akhirnya saya memberanikan diri karena kebetulan dapet voucher konsultasi gratis setelah mengikuti seminar di RS. Hermina Bekasi yang kebetulan pembicaranya adalah dr. Rizki, As Always sendirian ya karena jadwal suami super padat dan ya udah cuma check up saja kan gak masalah kok sendirian juga.

Masuk ke ruang praktek dengan santai tapi mantap langsung tembak ke dokternya, "Dok sepertinya saya sudah mantap mau Insem aja"
Dokter Rizki pun menyambut baik keinginan saya karena rekam medis saya baliaupun sudah paham kan, jadi beliau bilang, oke. Akhirnya harus ke kursi 'singgasana' untuk transV lagi demi melihat kondisi rahim dan sel telur.
"Bu, kok sepertinya ada polip ya ini, kecil sih tapi kalo di biarin bisa menghalangi perlekatan embrio"

Kaget dong saya, beberapa bulan yang lalu belum ada apa-apa kok, bersih dan baik semua kondisinya. Antara kaget, sedih, takut, kecewa bercampur menjadi satu. Tapi reaksi saya cuma bengong.

Dokterpun menyarankan saya untuk Histeroskopi secepatnya sebelum inseminasi. Dan menjelaskan secara singkat, bahwa Histereskopi adalah tindakan teropong rahim dengan memasukan kamera kecil untuk melihat kondisi rahim secara lebih jelas, sekaligus dapat dilakukan tindakan apabila ditemukan polip. Tentunya tindakan ini dilakukan supaya memperbesar peluang keberhasilan program kehamilan. Tindakan ini dilakukan bisa dengan bius umum atau dengan memberikan obat penghilang nyeri.

Masih dalam kondisi syok saat itu, saat dokter bilang sesegera mungkin, bila perlu besok. Saya makin terbengong - bengong saat diinfokan biayanya. Setelah coba kasih info suami melalui whattsap saya memutuskan untuk menunda dulu demi menyiapkan diri dan tentunya biaya.

Untuk meyakinkan diri saya dan suami memutuskan membuat jadwal konsul dengan  Dokter lain. Jatuhlah pilihan ke Dr. Antony di RS. Mitra Keluarga Bekasi Barat.
Dr. Antony sangat ramah dan komunikatif, awalnya kami cuma bilang mau promil. Beliau membaca kembali resum hasil test ini dan itu yang segambreng itu. Dan beliau menyimpulkan bahwa pada kasus kami termasuk pada Infertil unExplained yang dalam hal ini tindakan paling memungkinkan adalah mamperbaiki pola hidup dengan olahraga dan makan - makanan sehat. Rajin konsumsi asam folat setiap hari, serta banyak - banyaklah berdoa.
Untuk tindakan medis yang mungkin bisa di lakukan baliau malah bilang, dari pada buang-buang uang untuk cek ini dan itu coba dikumpulkan saja buat Bayi Tabung. Beliau tidak menyarankan Inseminasi karena peluangnya kecil.

Reaksi kami datar sedatar - datarnya. Sambil menghela nafas panjang tentunya supaya otak kami dialiri oksigen yang cukup agar tidak pingsan saat itu juga.

Sebelum memulai USG transV akhirnya saya menjelaskan bahwa, informasi dari dokter sebelumnya ada polip, saya katakan supaya dapat second opinion mengenai permasalahan ini. Dan ternyata benar memang ada polip, tapi reaksi dari Dr. Antony santai aja, beliau malah bilang "Sebelumnya gak ada polip tapi belum hamil juga kan? Jadi penyebab utamanya bukan polip dong.."

Disitu saya merasa galau, disatu sisi apa yang di katakan Dr. Antony mungkin ada benarnya. Tapi kalo udah kejadian begini ya udah mau gak mau kudu diilangin dong polipnya. Sebenernya di minta balik lagi pas mens hari kedua atau ketiga buat melihat kondisi terkini si polip ini yang kata dokter bakal terlihat jelas saat mens hari kedua atau ketiga. Tapi saya gak dateng. Buat apa lagi cari banyak bukti ini itu, yang ada buang waktu dan biaya.

Akhirnya saya mantap untuk histeroskopi operatif pada periode menstruasi bulan berikutnya. Semoga saja ini adalah keputusan terbaik untuk masalah kami.
Mencoba mengisi hati dan pikiran dengan harapan dan doa yang baik, agar tidak ada ruang untuk keputus asa-an. Semangattttt!

" Allah Senantiasa Bersama Orang - Orang Yang Sabar "


Perjalanan Menjadi Ibu

Sunday, March 4, 2018
Assalamu'alaikum, 

Setelah hiatus beberapa lama dari sosial media dan menulis. Kurang lebih sebulan ini, meskipun sejatinya aku tidak pernah benar - benar pergi dari dunia kepenulisan dan buku - buku.

Kali ini aku mau share tentang perjalanan aku dan suami dalam menjalani program kehamilan. 

Diusia pernikahan kami yang ke -5, bukanlah waktu yang sebentar bagi kami untuk menunggu kehadiran momongan tapu bukan pula waktu yang lama bagi usia pernikahan kami, yang tentunya berharap selamanya sampai akhir usia.

Pernah putus asa? Tidak! Saya bukan orang yang mudah putus asa. Meski perasaan sedih pasti ada. Tapi kemudian aku sadar, seumur hidup Allah sudah begitu banyak memberiku nikmat, kesehatan, rejeki, keluarga, usia, waktu dan semuanya bahkan aku tak mampu lagi menghitung. 

Apa pantas aku mengeluh? 

Aku malu untuk mengeluh. Karena aku tau apa - apa yang Allah rencanakan adalah sebaik - baiknya rencana. Melebihi batas apa yang mampu di pikirkan oleh manusia.

Tentang Program kehamilan, 
sebenernya aku udah mulai datengin Spog sejak setahun pertama setelah menikah. Tepatnya sekitar bulan juni 2014.

Kok masih inget sih? 

Kebetulan beberapa waktu lalu, aku bersihin kulkas dan kotak obat, nemu deh resep pertama kali ke SpOg.

Jadi waktu itu aku terlambat haid beberapa minggu dan perut berasa begah banget. Saat itu sih perasaannya biasa aja gak terlalu exited gimana banget. 

Karena beberapa bulan pertama pasca pernikahan juga pernah telat haid lebih dari 2 minggu, saat itu antara siap gak siap nerima kenyataan kalo misalnya aku hamil beneran. 

Kok gitu? Entahlah waktu itu aku masih yang bener - bener baru beradaptasi banget sama suami. Dan peran sebagai istri yang cukup menguras waktu dan energi. Bayangkan waktu itu berat badanku malah turun dong dan makin kurus. 

Awalnya ke bidan terdekat, dan bidannya bilang untuk lebih memastikan harus di USG.

Berhubungan newbi banget dalam urusan perhamilan, dan gak ada sama sekali referensi dokter. Akhirnya aku dan suami ke RS. Juwita, secara memang disana yang terdekat dengan tempat tinggal aku yang sekarang.

Lupa nama dokternya, yang jelas saat itu doktenya Bapak - bapak dan aku udah parno, nanti di apain ya? 

Alhamdulillahnya antriannya cepet, cuma 2 atau 3 orang aja. Di ruang praktek dokter tsb, aku dan suami ditanya2 sebentar tentang keluhannya apa, berapa lama menikah dan tibalah saatnya aku naik ke atas tepat tidur prakter untuk di USG perut. 

Ternyata aku belum hamil kok, kata dokternya hanya gangguan hormon aja, jangan stress, toh baru belum lama menikah, di nikmati aja semua prosesnya. Siap Dok!
Setelah itu dokter memberi resep Primolut, dan vitamin becombion.

Sejujurnya obat itu gak aku minum sama sekali. Karena nasehat beberapa teman yang bilang sebaiknya jangan minum obat peluruh haid. Siapa tau kan kalo ternyata hamil. 

Singkat cerita akhirnya aku haid juga meskipun gak minum primolut yang di resepin dokter. 

Ya udah, saat itu sih masih santai aja kan belum hamil ya udah mungkin emang masih harus pacaran dulu, secara kami nikah tanpa proses pacaran. Dan tentu saja kami harus melalui proses adaptasi dalam berbagai hal. 

Selang beberapa bulan saya mengalami gangguan menstruasi lagi, dulu sempet telat haid sekarang malah sebulan bisa 2x. Akhirnya aku atur jadwal lagi kunjungan ke SpOg. Kali ini pilih RS. Bella karena dekat dengan kantor dan kebetulan ada jadwal dokter wanita juga. 

Saat itu dengan dokter W.S Redjeki, daftar dari jam 5 sore baru masuk ruang praktek jam 9 malem, antriannya banyak banget. Disinilah pertama kali ngalamin ngantri berjam-jam  di dokter kandungan. Mana gak dianter suami, untung ada adek yang setia nemenin, bawain makan dll. Inget juga disini aku kehilangan payung. 

Well, kembali ke permasalahan utama ya, jadi pas ke dokter Redjeki ini ditanya keluhannya apa, aku bilang aja jadwal mensku berantakan, sebulan ini 2x dan ditambah, pusing dan mual. Kemudian aku diminta usg trans V. Sempet kaget dan gak nyaman. Kata dokter rilex aja, Oke aku pun berusaha rilex.

Dokter bilang semuanya bagus. Rahimku bagus, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Ini hanya gangguan hormonal, stress dan kelelahan. Kemudian dokter memberikan resep Lanturol dan apalagi waktu itu aku lupa. 

Pulang naik angkot sendirian lewat dari jam 10 malam. Masih ada perasaan tidak nyaman pasca usg transV. Gak nyaman banget!

Setelah kunjungan kali ini. Aku menyimpulkan bahwa aku baik - baik saja. Hanya perlu banyak berdoa dan mencoba menjaga pola makan dan mungkin mengurangi aktifitas yang memicu stress yang dapat membuat kacau hormonku. 

Pernah juga aku ngalamin mual - mual yang aku pikir, ya palingan masuk angin aja atau kecapean. Tapi biasanya emang gak separah itu. Sampe muntah dikantor segala. Dirumah gak nafsu makan, badan lemes kepala pusing dan berat.

Perut laper tapi mual dan lidah terasa pahit. Dibeliin nasi padang sama suami, yang biasanya lahap, ini gak mau sama sekali. Anehnya adalah biasanya walaupun aku sakit aku tetep doyan makan lho.. Kok ini gak mau, bahkan di tawarin mi rebus pun sampe pengen muntah nyium bau nya. 

Ada apa denganku?  Entah lah jadwal mens masih beberapa hari lagi. Jadi aku gak mau Ge - er dulu. Karena aku lemes dan dehidrasi parah, yang kebayang di pikiran cuma pengen buah pisang atau jeruk. Pas di beliin pun cuma makan satu aja.

Akhirnya aku bilang ke suami, minta berobat aja karena gak berani minum obat warung. Udah super kliyengan jalan ke kamar mandi aja nyaris jatuh.

Btw sebelum ke dokter suami minta aku tespack waktu itu sekitar jam 4 sore, hasil negatif! Fix deh ini mah meriang aja. Buruan berobat minimal biar doyan makan dan gak pusing.

Akhirnya ke klinik kebidanan terdekat. Dan bidannya gak ada. Cuma ada dua orang perempuan muda yang kemungkinan adalah assistan bidan. Dan aku sedikit meragukan mereka. Tapi ya udahlah, berhubung udah gak karuan ini badan aku pasrah aja.

Setelah menjalankan serangkaian prosedur seperti cek tensi, suhu dll, mereka ngeresepin aku obat pusing, obat mual, dan demam juga. 

Sepulangnya dari klinik itu aku makan buah pisang dan minum obat. Lumayan bisa tidur pules, demamnya turun dan mual juga berkurang. Udahannya aku flek, flek lagi dan akhirnya deres. Anda belum beruntung, Silakan coba lagi! Hahaha.. 

Pelajaran banget untuk jaga kondisi dan sebisa mungkin tidak minum obat apapun. Kalo udah mual atau meriang. Tahan dulu, sugesti positif... Sehat.. Sehat.. aku sehat,  aku siap untuk hamil, melahirkan dan merawat anak - anak dengan baik!


















Tentang Niat

Wednesday, January 24, 2018
Assalamu'alaikum,

Dengan adanya tulisan ini saya tidak sedang menggurui siapapun. Karena siapalah saya? Saya bukan siapa - siapa sehingga berhak merasa paling baik diantara yang lain. Tapi, semoga dengan tulisan singkat ini menjadi pengingat diri saya bahwa saya hanya manusia biasa yang juga pernah khilaf.

Pernikahan adalah ibadah. Dengan menikah sempurnalah separuh agama kita. Dengan menikah berarti kita juga telah menjalankan sunah dari Rosululloh.

Jadi niat kita saat menikah haruslah untuk beribadah kepada Allah SWT. Throw back saat saya berada dalam situasi menjelang pernikahan. Saya ingat - ingat lagi, apa sih yang membuat saya begitu yakin untuk melangkah ke gerbang pernikahan saat itu.

Saya ingin menghindari fitnah. Fitnah Pacaran. Pernah melalui masa jahiliyah dalam hidup. Bukan tentang saat itu belum paham akan hukum Allah. Tapi menjalankan prinsip amar ma'ruf nahi mungkar sungguh tidaklah mudah.

Apalagi di tengah lingkungan masyarakat yang seolah menganggap lumrah pacaran. Saya malu dan sangat menyesal pernah dengan kesadaran penuh bermaksiat kepada Allah.

'Ya Allah berilah petunjuk, saya ingin bertaubat,mohon berikan kekuatan. Agar saya mampu menghindari godaan syetan yang terkutuk.' 

Sampai dengan saat ini saya masih saja bergetar dan marah pada kekhilafan saya di masa lalu. Pergi berdua dengan yang bukan muhrim, gandengan tangan, merindu, mencinta pada seseorang yang bukan haq nya.

Saya merasa jijik menghalalkan semua atas nama cinta. Tapi saya sepatutnya bersyukur karena Allah SWT masih mau menyentil saya, Allah masih berkenan meluruskan hati saya sebelum melangkah lebih jauh dalam kemaksiatan.

Pada akhirnya saya sadar tidak ada yang namanya pacar soleh, karena lelaki soleh tidak akan pernah mengajak pacaran.
Tidak ada yang namanya pacaran islami, karena dalam islam tidak ada yang namanya pacaran.

Suka heran kenapa status 'jomblo' banyak di bully. Salah dimana? Bahkan ada beberapa yang uring - uringan kalo sehari saja putus dari pacarnya, udah kaya dunia mau kiamat aja.

Apa dikira hebat yang bisa pacaran, apalagi yang bisa gonta ganti pacar?
Saya tidak sedang menghakimi atau sok suci. Demi Allah.

Saya mengatakan ini sebagai orang yang pernah salah dan mencoba untuk memperbaiki diri.

Jodoh adalah cerminan diri. Siapapun yang berusaha memperbaiki diri sama artinya dia sedang memperbaiki jodohnya.

Yang perlu di ingat menikah kemudian punya anak bukanlah sebuah ajang perlombaan siapa yang paling cepat dia yang bakal mendapat penilaian terbaik. Jangan menikah karena deadline, jangan menikah karena disuruh, jangan menikah karena terpaksa, jangan menikah karena latah dan ikut-ikutan, jangan menikah cuma karena usia, jangan menikah saat kamu sama sekali tidak yakin dengan pernikahanmu itu.

Ya, menikahlah saat hati merasa yakin! Mintalah petunjuk pada Allah, agar diberi kemantapan hati. Jika ternyata tidak ada keyakinan itu, belum terlambat untuk mundur. Jangan korbankan sepanjang sisa usiamu dalam penyesalan.

Pernikahan adalah ibadah sepanjang sisa usia, karenanya niatkan semua untuk ibadah. Niatkan dan bertawakal pada Allah sepenuhnya. Supaya apa? Supaya gak gampang dikomporin, supaya gak gampang menyerah, supaya gak se-te-res saat mendapat jodoh di luar ekpektasi, supaya tahan banting dalam segala medan pertempuran, supaya gak gampang ngeluh - ngeluh. Supaya gak makan ati tiap hari, kan bosen yakkkk!


Karena setiap pasangan menikah punya ujiannya masing - masing. Bersiaplah untuk segala kemungkinan, yang terburuk sekalipun. Karena sesungguhnya menghadapi komentar netizen tentang rumah tanggamu, tidaklah mudah.

Wassalam,
pertiwi